Oleh: fitrianitrirahayu | 19 Mei 2010

KEPRIHATINAN TERHADAP TPQ

ANAKKU YANG MENGGEMASKANKEPRIHATINAN TERHADAP TAMAN PENDIDIKAN AL-QURAN

Belasan tahun yang lalu, sebuah gedung yang sederhana tapi penuh makna selalu dirindukan oleh para santri dan tutornya setiap sore hari. Anak-anak kecil umur belasan tahun berbondong-bondong dengan menenteng Al-quran,  berjilbab, berpeci semua diwarnai dengan keceriaan dan kegembiraan. TPQ (Taman Pendidikan Al-Quran) atau yang dulu dikenal dengan TPA , tapi kemudian banyak orang yang salah mengartikannya sehingga menjadi TPA (Tempat Pembuangan Akhir) atau TPA (Tempat Penitipan Anak).

Setiap sore setelah ba’da ashar sekitar pukul 15.30 s.d 17.00 banyak anak-anak yang pergi ke TPQ untuk belajar agama dan belajar al-quran dengan bimbingan bapak/ibu yang umumnya juga masih bersekolah di tingkat SMU atau sederajat. Mengaji di TPQ adalah waktu yang dirindukan anak-anak setelah pulang sekolah dan bermain. Betapa ramainya TPQ setiap sore karena anak-anak bisa bertemu dengan temannya, bisa belajar bersama, bisa membaca iqro, dan ada kalanya menyanyi bersama.

Sekarang seiring perkembangan zaman, keberadaan TPQ semakin mengikis dan mengiris. Beberapa faktor penyababnya antara lain: 1) kurangnya tenaga pendidik/tutor. Dahulu setiap tutor dengan ikhlas mengajar tanpa pamrih, mereka  sukarela meluangkan waktunya untuk mengajar anak-anak belajar iqro. Tetapi seiring berjalannya waktu, banyak yang lulus SMU melanjutkan ke Perguruan Tinggi sehingga mereka harus ke luar kota dan kesibukannya menjadi lebih meningkat. Akhirnya motivasi anak menjadi menurun karena tidak ada lagi guru yang setiap sore selalu dirindu untuk memberikan ilmu yang bermutu. Jika dari awal disusun kaderisasi tutor TPQ, mungkin TPQ tidak akan krisis tenaga pengajar. 2) Kemajuan Teknologi. Dahulu penggunaan HP terbatas hanya untuk orang dewasa untuk kepentingan tertentu, misalnya untuk komunikasi dengan saudara. Tetapi sekarang, HP ibarat krupuk makanan ringan yang murah, mudah didapat, dan banyak macamnya. Anak-anak sekarang lebih suka membuka HP, menyalakan televisi, bermain komputer daripada membuka Al-Quran, menghafal doa sehari-hari, dan bernyanyi lagu islami. 3) Dorongan Orangtua. Banyak orangtua yang kurang peduli dengan anak, sehingga anak dibiarkan bermain berhari-hari tanpa diingatkan untuk mengaji. Padahal pendidikan agama sangat penting diajarkan dari anak masih kecil sebagai pondasi kalau dewasa kelak dalam menjalani kehidupan. Harusnya orangtua lebih tegas dan perhatian lagi kepada anak-anaknya dalam hal pendidikan agama.  Dalam sehari belajar di TPQ paling tidak hanya 2 jam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: